PASCA PANEN,PENANGANAN KOMODITI PASCAPANEN,TEKNIK PENYIMPANAN PASCA PANEN


PASCA PANEN,PENANGANAN KOMODITI PASCAPANEN,TEKNIK PENYIMPANAN PASCA PANEN
pasca panen

        Teknologi pasca panen: ilmu yang mempelajari tentang cara-cara penanganan & pengelolaan untuk mempertahankan kesegaran & mutu komoditi sejak saat panen hingga komoditi tersebut sampai ke tangan konsumen.
        Penanganan & pengelolaan komoditi pasca panen: kegiatan penanganan & pengelolaan sejak saat komoditi dipanen yang mengikuti cara-cara yang benar sesuai ketentuan yang dianjurkan & sesuai hasil penelitian yang dilakukan peneliti terdahulu.
        Saat komoditi dipanen:
1.           Hasil panen tidak banyak yang rusak.
2.           Tidak terlalu muda/belum layak panen.
3.           Kuantitas (hasil per kuintal/per hektar) & kualitas (kesegaran)  memuaskan.
        Batasan teknologi pasca panen:
1.           Penentuan umur panen.
2.           Waktu panen.
3.           Cara panen.
4.           Penanganan komoditi setelah dipanen:
a.           Penyortiran.
b.           Pencucian.
c.            Penanganan pendahuluan.
d.          Teknik penyimpanan.
        Tujuan teknologi pasca panen:
1.           Mempertahankan kesegaran.
2.           Mengurangi loss.
3.           Meningkatkan mutu.
4.           Penekanan buaya.
5.           Meningkatkan harga pemasaran.
        Teknologi pasca panen diperlukan karena setelah panen komoditi pertanian terus melakukan metabolisme dan kegiatan fisiologis seperti respirasi, perubahan kematangan, perubahan komposisi kimia dan lain-lain, yang akan terus berlangsung sampai komoditi tersebut busuk dan terbuang.

FAKTOR PENYEBAB LOSS PADA KOMODITI PASCAPANEN

        Loss: hilangnya/berkurangnya hasil panen baik secara kuantitas (jumlah hasil panen) & kualitas (penurunan mutu/kesegaran hasil panen).
        Pengelompokan jenis loss:
1.           Hilang/berkurangnya hasil panen karena susut saat panen à waktu panen tidak tepat, kematangan belum optimum.
2.           Hilangnya hasil panen pada saat pengumpulan hasil panen/susut tercecer saat operasi pengumpulan pada tempat pengumpul à saat distribusi hasil panen tercecer jatuh.
3.           Hilangnya hasil panen karena terjadinya kerusakan/terserang hama penyakit à kerusakan mekanis/fisik, hama penyakit, mikroba.
        Penyebab loss:
1.           Mekanis:
a.           Memar/lecet/pecah karena penanganan kurang hati-hati.
b.           Kerusakan mempermudah/meningkatkan laju respirasi à buah cepat busuk.
c.            Kerusakan mempermudah masuknya penyakit à buah lain juga tercemar.
2.           Serangga:
a.           Serangan sebelum panen/pada tempat pengumpulan/di gudang penyimpanan.
b.           Buah masih muda yang dimasuki serangga perusak à terbawa sampai buah matang à memanfaatkan nutrisi buah à berkembang biak dalam buah à buah bertambah busuk.
c.            Komoditi yang masih baik juga dapat terkontaminasi/tertular.
3.           Suhu:
a.           Tidak semua komoditi dapat diberi perlakuan dengan suhu tinggi atau suhu dingin.
b.           Rusaknya jaringan buah karena suhu tinggi à heat injury.
c.            Rusaknya jaringan buah karena suhu dingin à chilling injury.
d.          Rusaknya jaringan buah karena suhu beku à freezing injury.

4.           Perubahan fisiologis:
a.           Respirasi
«   Tiga tingkatan:
§   Pemecahan senyawa polisakarida menjadi gula sederhana.
§   Terjadinya oksidasi gula menjadi asam piruvat.
§   Terjadinya transformasi asam piruvat dan asam organik lainnya secara aerobik menjadi karbondioksida dan air serta menghasilkan energi.
«   Laju respirasi dipengaruhi:
§   Umur & jenis komoditi à
·              Makiná tingkat kematangan laju respirasi makiná à buah & sayur tidak tahan lama à loss;
·              Jenis komoditi à klimakterik atau non-klimaterik.
§   Suhu à
·              Kenaikan/penurunan 10°C (Q 10) maningkatkan/menurunkan laju respirasi 2 – 3 X;
·              Suhu rendah efektif menghambat laju respirasi;
·              Suhu terlalu rendah à chilling injury.
§   Ketersediaan oksigen à
·              Oksigen rendah menghambat respirasi;
·     Oksigen terlalu rendah/habis menyebabkan fermentasi hingga komoditi rusak/busuk.
§   Ketersediaan karbondioksida à
·              CO2á menghambat respirasi, tunda pematangan buah, hambat perubahan kimia, kegiatan enzim;
·    CO2 terlalu tinggi merusak komoditi panen, CO2 injury & browning.
§   Etilen à
· Mempercepat respirasi, mempercepat waktu klimakterik, mempercepat pematangan buah hingga mempercepat pelayuan;
·           Menghilangkan etilen dengan pemberian vantilasi, penyerap etilen (KmnO4) & tekanan vakum.
b.           Transpirasi
«   Penguapan air dari jaringan hidup/jaringan komoditi pasca panen.
«   Menyebabkan:
§   Kehilangan berat.
§   Pelayuan pada komoditi.
§   Pengkriputan & tekstur kurang baik.
§   Kemunduran mutu.


«   Dipengaruhi oleh:
§   Suhu, RH, & tekanan uap
·              Uap air bergerak dari daerah padat ke rendah konsentrasinya.
·              RH di tengah komoditi 90% & di ruang penyimpanan RH 99% à air bergerak dari bahan atau dalam komoditi ke ruang peyimpanan.
·              Perbedaan tekanan uap akan mempercepat transpirasi.
·              Suhuá tekanan uapá; suhuâ tekanan uapâ.
§   Sifat alami komoditi
·              Transpirasi komoditi daun lebar > daun sempit.
·              Lapisan lilin menghambat transpirasi.
§   Pencucian berlebihan dan terdapatnya luka/memar mempercepat transpirasi.
        Menghambat loss:
1.           Pelilinan/pelapisan dengan parafin.
a.           Terlalu tebal à merusak buah.
b.           Terlalu tipis à tidak efektif.
2.           Pengemasan untuk menghambat penetrasi panas ke dalam bahan.
PENANGANAN KOMODITI PASCAPANEN

        Kematangan komersial: stadia perkembangan buah dimana semua organnya sudah siap untuk dipanen dan sudah dapat dimanfaatkan untuk dipasarkan.
        Kematangan fisiologis: stadia tertentu dalam perkembangan buah dimana syarat proses kematangan buah terpenuhi secara sempurna.
        Pemanenan:
1.           Tingkat kematangan buah & sayur:
a.           Buah muda à terlalu muda à daya simpan lama, rasa kurang enak, rasa buah masam/kurang manis, penampilan kurang menarik.
b.           Buah tua.
c.            Buah yang masak di pohon.
2.           Kadar air (kacang-kacangan, umbi-umbian & biji-bijian):
a.           Kadar air tinggi (20 – 30%): mutu berkurang karena kulit buah keriput, terjadi pengurangan berat saat dikeringkan.
b.           Kadar (12 – 14%): mutu baik karena penampakan kulit buah kencang & susut pasca panen rendah.

3.           Lain-lain:
a.           Buah setelah dipetik usahakan tidak jatuh ke bawah agar tidak luka/memar.
b.           Buah dengan tangkai liat/keras dipanen dengan gunting.
c.            Buah yang jauh dari jangkauan tangan dengan pisau pemotong tangkai buah + tempat penampungan buah.
d.          Pemanenan besar-besaran dengan mesin pemanen (harversting machine).
        Waktu panen:
1.           Duku à pagi hari setelah embun hilang, jika udara masih berembun buah akan pecah.
2.           Jeruk à pukul 08.00 pagi – 15.00 sore, jika dipanen saat masih ada embun jeruk akan layu, dipanen saat matahari terik kulit jeruk akan menonjol & berminyak.
3.           Pisang à pagi atau sore.
4.           Apel à udara cerah & matahari sudah bersinar, saat lembab kulit apel akan rusak.
5.           Mangga à siang hari cerah, pagi hari getah pada tangkai masih banyak hingga buah kotor & mutu berkurang.
6.           Nenas à siang hari, pagi hari kulit masih basah hingga mudah layu.
7.           Umbi, kacang, & biji-bijian à pagi hari sebelum matahari terik, pada suhu tinggi akan terjadi degradasi pati & komoditi kurang manis.
        Penanganan pasca panen:
1.           Penanganan di lapang:
a.           Pre cooling: perlakuan pendahuluan untuk mengurangi panas lapang pada komoditi pasca panen.
«   Tujuan:
§   Mengurangi panas lapang.
§   Menghambat respirasi.
§   Menghambat transpirasi.
§   Mempertahankan buah dari pelayuan dan pengkriputan.
§   Memudahkan perlakuan pendinginan.

«   Cara:
§   Hydro cooling, perpindahan panas ke air dengan merendam dengan air dingin.
§   Vacuum cooling, penguapan panas dari komoditi ke udara dengan pemberian udara vakum dingin.
§   Refrigerated air cooling, penyerapan udara panas ke luar dengan pemberian udara dingin.
§   Ice bank cooling with positive ventilation, pemberian udara dingin melalui ventilasi dapat meruba kelembaban buah/komoditi hasil panen.
§   Evaporated air cooling, menguapkan udara panas dari dalam komoditi hasil panen.
b.           Pengangkutan dengan pengemas & gerobak ke tempat pengumpulan.
«   Pengemasan untuk menghindarkan hasil panen dari kehilangan karena susut tercecer saat pengangkutan.
c.            Sortasi: permisahan hasil panen sesuai dengan jenis komoditi, ukuran komoditi, tingkat kematangan dan pengkelasan mutu pada komoditi pasca panen.
«   Tujuan: menggolongkan hasil panen sesuai dengan mutu dan ukuran serta ada/tidaknya cacat sehingga dapat mempertahakan mutu hasil panen saat akan didistribusikan/disimpan.
«   Sortasi dapat dilakukan berdasarkan:
§   Ukuran, Kemulusan, Tingkat kematangan, berdasarkan warna & kekerasan.
d.          Perlakuan kimia.
«   Tujuan: Melindungi komoditi dari kerusakan fisik, mekanik, mikrobiologis, dan karena perubahan fisik.
«   Pelilinan: pemberian lapisan lilin (wax) pada permukaan kulit buah, menghambat respirasi & transpirasi pada komoditi pasca panen.
§   Membuat emulsi lilin (12%):
«   Pemberian CaCl2:
«   Pengemasan: pemberian wadah yang cocok kepada komoditi sehingga terlindungi dari kerusakan fisik, mekanis, kimiawi, fisiologis, & biologis.
§   Tujuan:
·              Melindungi HP dari kerusakan.
·              Melindungi HP dari kehilangan air karena transpirasi.
·              Menghindarkan HP dari susu tercecer/hilang.
·              Mempermudah pengankutan.
·              Mempermudah penyusunan baik dalam pengangkutan atau penyimpanan.
·              Mempermudah penghitungan.
§   Keuntungan:
·              Lebih efisien dalam pengenkutan/pemasaran.
·              Memungkinkan penggunaan teknologi pengemasan dengan MAS.
·              Bersih, rapi, & memenuhi syarat kesehatan.
·              Pelayanan penjualan yang lebih baik pada konsumen.
·              Mengurangi biaya pengankutan.
·              Memungkinkan cara pengangkutan baru.
§   Bahan & bentuk kemasan:
·              Kemasan langsung (utama), langsung berhubungan dengan komoditi hasil panen yang dikemas: karung, plastik film, kertas, daun.
·              Tidak langsung: melindungi hasil panen yang tidak bersentuhan langsung, bertujuan untuk melindungi dari kerusakan fisik, mekanik, mempermdah penyimpanan & distribusi: peti kayu, peti plastik, peti karton, keranjang bambu.
§   Sifat bahan:
·              Buah lunak yang mudah memar & rusak à daya simpan 3 – 5 hari à strawberry, anggur dll à semi rigid film dengan pembungkus selopan, selulose asetat, & polystiren yang perlu ventilasi. Kemasan tidak langsungnya à peti karton beralas lunak/diselipi cabikan kertas.
·              Komoditi tekstur keras à laju respirasi rendah à cukup tahan lama à wadah terbuka dengan tutup plastik, jaring polyetilen. Kemasan tidak langsung à peti kayu, peti karton, keranjang plastik & bambu.

TEKNIK PENYIMPANAN KOMODITI PASCAPANEN

Tujuan:
1.           Menunggu untuk dipasarkan.
2.           Mendapatkan harga jual yang tinggi.
3.           Persediaan konsumsi.
4.           Keperluan benih.
5.           Keadaan mendesak.
Penyimpanan suhu dingin:
1.           Menentukan kapasitas suhu:
a.           Panas jenis bahan yang disimpan.
b.           Satuan kapasitas alat atau ton refrigerasi.
c.            Panas lapang atau panas sensibel.
d.          Panas vital/panas yang dihasilkan pada saat buah & sayur berespirasi.
e.           Beban lainnya, seperti transmisi gedung, pergantian udara, lampu, kipas, pekerja, dan forklift.
2.           Faktor penting yang mempengaruhi bahan yang disimpan pada suhu dingin:
a.           Mutu bahan seperti tingkat kematangan atau bebas dari kerusakan.
b.           Perlakuan pran pendinginan.
c.            kelembaban nisbi/RH.
d.          Sirkulasi udara.
e.           Perkembangan kalor/panas.
3.           Keterangan lain lihat bahan FISTEK lainnya!

Penyimpanan dengan pengendalian atmosfer:
1.          Teknik penyimpanan dimana atmosfer di sekeliling produk diatur konsentrasinya.
2.     Konsentrasi COdinaikkan dan O2 diturunkan yang disertai pengontrolan udara di sekeliling produk secara terus-menerus dengan perlatan khusus.
3.       Konsentrasi gas CO2, O2, N2 diatur melalui filter khusus dan dibantu dengan generator khusus, scrubbers dan generator gas.
4.   Lebih dapat diketahui pola respirasi porduk yang dikemas karena konsentrasi gas disekeliling produk dapat terus dikontrol dan dipantau.
5.         Mempengaruhi respirasi pada 3 tingkat:
a.           Respirasi aerobik.
b.           Respirasi anaerobik.
c.            Kombinasi.
1.    Karbondioksida menunda permulaan peningkatan respirasi pada buah alpukat, dan dapat menurnkan laju penyerapan oksigen pada puncak klimakterik.
Terjadi penurunan asam karena kegiatan respirasi menurun, peningkatan karbondioksida atau adanya enzim yang tidak begitu aktif yang mengubah asam malat jadi asam piruvat atau oksaloasetat.

Penyimpanan dengan modifikasi atmosfer:
1.      Penyimpanan dimana konsentrasi O2 lebih rendah dan tingkat CO2 lebih tinggi, bila dibandingkan dengan udara normal, dan dapat dicapai dengan pengaturan kemasan.
2.        Jenis MAS:
a.   MAS pasif: keseimbangan gas CO2 dan O2 diperoleh melalui pertukaran udara dalam kemasan melalui kemasan yang digunakan (hanya mengandalkan permeabilitas dari kemasan).
b.      MAS aktif:  udara dalam kemasan awalnya dikontrol dengan menarik semua udara dalam kemasan, lalu diisi kembali denan udara dan konsentrasi yang telah diatur dengan menggunakan alat, hingga kesetimbangan langsung tercapai.

3.  Konsentrasi oksigen rendah mempengaruhi respirasi & oksidasi substrat menurun, pematangan tertunda, umum komoditi yang disimpan jadi lebih panjang, perombakan klorofil tertunda, produksi etilen rendah, laju pembentukan asam askorbat berkurang, perbandingan asam-asam lemak tidak jenuh berubah & laju degradasi senyawa pektin tidak secepat seperti dalam udara normal.
4.    Kandungan karbondioksida dalam sel yang tinggi mengarah pada perubahan fisiologis seperti penurunan rekasi sintesis pematangan misalnya protein & zat warna. Penghambatan beberapa jenis enzim, penurunan produksi zat atsiri, gangguan metabolisme asam organik, kelambatan pemecahan senyawa pektin, penghambatan sintesa klorofil, perubahan perbandingan berbagai gula.

    Penyimpanan hipobarik:
1.    Pengaturan tekanan di sekeliling produk yang disimpan, dimana tekanan tersebut lebih rendah dari tekanan atmosfer normal.
2.        Dua efek:
a.        Suplai oksigen untuk produksi menurun & mengakibatkan penurunan kecepatan respirasi.
b.  Penurunan produksi etilen & gas lain yang dihasilkan produk dikeluarkan dengan menghampakan ruangan, akibat pematangan dan proses aging terhambat.




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PASCA PANEN,PENANGANAN KOMODITI PASCAPANEN,TEKNIK PENYIMPANAN PASCA PANEN"

Post a Comment

Jika kalian kesulitan dalam mendapatkan file,mendownload file dan menginstal file anda dapat menghubungi saya
Tingalkan komentar anda....!!!!
Berkomentar lah yang sopan......!!!
Terimaksih Bagi yang follow blog, like fans page, follow gogle +, follow Twitter di blog ini, saya ucapkan Banyak Terima Kasih.....:)