Makalah Penyakit yang disebabkan oleh jamur pada tanaman singkong

Makalah macam macam Penyakit yang disebabkan oleh jamur pada tanaman singkong 
Makalah macam macam Penyakit yang disebabkan oleh jamur pada tanaman singkong

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Penyakit tanaman merupakan salah satu faktor yang mampu mengakibatkan penurunan hasil dan mutu hasil pada tanaman pangan di Indonesia. Sebagian besar penyakit tanaman disebabkan oleh jamur yang memproduksi mikotoksin. Secara periodik penyakit tanaman mampu menyebar ke tanaman-tanaman utama kemudian merusak, merugikan dan bahkan menjadi endemik. Identifikasi jamur penting dilakukan untuk usaha pengendalian penyakit guna menunjang peningkatan produksi tanaman. Identifikasi jamur dilakukan berdasarkan gejala penyakit pada tanaman maupun pada substrat tempat kehidupannya, pertumbuhan koloni, dan ciri morfologinya menurut taksonomi yang karakteristik secara mikroskopis.Jamur merupakan penyebab penyakit terbesar (90%) pada tanaman pangan di Indonesia,, sedang 10% sisanya disebabkan oleh bakteri, virus, dan mikoplasma / fitoplasma.
Dalam program pengendalian hama/penyakit terpadu (PHT), pengambilan keputusan untuk mengendalikan suatu penyakit didasarkan pada sistim pemantauan serangan patogen. Pemantauan patogen hanya dapat dilakukan dengan bekal pengetahuan yang cukup tentang jenis, gejala, penyebab, dan epidemiologi penyakit. Sehingga dengan melakukan inventarisasi, identifikasi, dan pengendalian penyakit pada tanaman pangan akan dapat meningkatkan efektivitas dan efieiensi pengendaliannya guna menunjang program peningkatan produksinya.
Jamur dimasukkan dalam suatu golongan besar yaitu Kerajaan Jamur yamg selanjutnya dibagi dalam lima tingkatan (kelas) yaituPhycomycetes, Deuteromycetes, Ascomycetes, Basidiaomycetes, dan Mycelia sterililia. Jamur yang diketahui sebagai patogen pada tanaman, patogen pada patogen tanaman, atau patogen pada serangga hama dapat diidentifikasi berdasarkan pada ciri morfologi secara mikroskopik menurut taksonominya.
Diagnosis penyebab penyakit dimulai dengan pengamatan secara cermat dan teliti pada seluruh bagian tanaman sakit yaitu daun, bunga, polong, batang, dan akar. Hal ini dapat difahami karena memang sangat sulit mengidentifikasi patogen, disebabkan sebagian besar patogen tidak dapat diidentifikasi hanya berdasar gejala yang nampak. Gejala penyakit pada tanaman dapat membantu dalam menentukan tipe-tipe keberadaan suatu patogen. Gejala penyakit mungkin dapat disebabkan kerusakan jaringan tanaman dan  gangguan fisiologis yang normal terjadi pada suatu tanaman. Gejala tidak spesifik kemungkinan disebabkan oleh tipe patogen yang beragam, Layu, klorosis, atau kerdil merupakan gejala penyakit yamg tidak spesifik. Sebagai contoh tanaman layu kemungkinan diakibatkan oleh patogen penyebab layu yang berada pada jaringan pembuluh. Busuk leher/akar, akar, batang, dan akibat dari kekeringan tanah juga dapat mengaibatkan tanaman layu. Keadaan seperti di atas dan penyakit yang lain juga mengakibatkan layu dan kerdil. Oleh karena itu perlu dilakukan observasi seluruh bagian tanaman dan yang paling utama adalah akar.
Satu tanaman mungkin terinfeksi oleh beberapa patogen yang berlainan, mengakibatkan suatu kisaran gejala penyakit.  Pada beberapa kasus gejala penyakit yang spesifik dapat membantu menentukan penyebab penyakit dengan lebih cepat, sebagaimana gejala penyakit yang disebabkan oleh jamur karat, karat putih. embun tepung, Sudden Death Syndrome dan downy mildew. Referensi sangat membantu memecahkan solusi dalam mengidentifikasi jamur pada gejala yang spesifik tersebut. Oleh karena itu setelah gejala penyakit diamati secara makroskopis harus dilanjutkan dengan pengamatan secara mikroskopik untuk konfirmasi keberadaan patogen yang kemungkinan menjadi penyebab penyakitnya.
Pengendalian secara hayati menggunakan musuh alaminya menggunakan jamur antagonis dan mikoparasit merupakan alternatif pengendalian penyakit yang paling menjanjikan karena cukup efektif, praktis, dapat berkembang dengan sendirinya, dan tidak mencemari lingkungan. Pengendalian hayati dapat berjalan sesuai yang diharapkan apabila jenis penyakit dapat diketahui dengan tepat serta agens hayati yang tepat dan sesuai pula.
Sejak tahun 1987 telah diidentifikasi penyebab penyakit pada tanaman/patogen penyebab penyakit/serangga. Dalam kurun waktu tersebut telah berhasil diidentifikasi sebanyak 20 jamur patogen, tujuh jamur antagonis/mikoparasait,  dan tiga     jamur entomopatogen.
B.     Tujuan Mempelajari jamur pada tanaman singkong
Ø  Untuk menegetahui jenis jamur yang menyerang tanaman singkong
Ø  Untuk mempermudah cara pemberantasan jamur pada tanaman singkong
Ø  Untuk mengetahui cara penyebaran dan cara pengendalian 


BAB II
PEMBAHASAN
1.      Jamur Akar Putih Pada Singkong
Penyakit yang sering menyerang tanaman singkong adalah jamur akar putih . Pada serangan berat, bisa melululantakkan pertanaman singkong.  Jamur akar putih menyerang pertanaman singkong terutama pada lahan pertanaman bekas tanaman karet maupun pada lahan-lahan yang sering di tanami singkong.
Pada lahan yang sering ditanami singkong, pada saat panen sering umbi singkong tertinggal di dalam tanah. Umbi singkong ini akan menjadi busuk dan menjadi tempat berkembangnya jamur akar putih. Selain hal tersebut di atas, pemakaian pupuk kandang yang belum matang atau belum terfermentasi secara sempurna, dapat menjadi tempat berkembangnya jamur akar putih. 

ü  Tanda - tanda tanaman singkong yang terserang jamur akar putih antara lain:
pertumbuhan tanaman merana, daun kuning dan berguguran, pertumbuhan vegetatifnya relatif berhenti, dan disekitar pangkal batang terdapat benang-benang putih yang merupakan miselium jamur akar putih. Ketika dicabut ada umbi yang mulai membusuk. Dengan demikian untuk penanaman singkong sambung yang diharuskan menggunakan pupuk organik dengan jumlah yang cukup banyak, harus menggunakan pupuk organik yang sudah matang sempurna.
Untuk mengatasi jamur akar putih pada tanaman singkong juga dapat digunakan untuk tanaman-tanaman lainnya, AOS Farm mengeluarkan produk Super Bokashi cair AOS.


üKonten super Bokashi Cair AOS adalah:

1. Bakteri: Bacillus sp, Pseudomonas sp, Azotobacter, Nitromonas
2. Actinomycetes: Streptomyces sp
3. Yeast: Saccharomyces sp
4. Fungi: Aspergilus sp, Trichoderma SP


ü  Cara Kerja:
Trichoderma sp menghancurkan miselium pathogen tular tanah dengan melilit miselium pathogen tular tanah (mikoparasitik) dan menghasilkan enzim kitinase dan glukonase yang memacu pertumbuhan tanaman (plant promoting rhizofungus), dan memindai ketahanan tanaman inang baik lokal maupun sistemik dan juga meningkatkan produktivitas.


ü  Cara Aplikasi:
2 liter Super Bokashi Cair AOS di larutkan dengan 100 liter air bersih dan ditambahkan 1 kg urea. Difermentasikan selama 1 malam dan disemprotkan di batang tanaman dan disekitar daerah perakaran.
Aplikasi Super Bokashi Cair AOS dilakukan 2 kali yaitu setelah penebaran pupuk organik dan pada saat tanaman berumur 4 bulan.



2. Penyakit Hawar Bakteri
Hawar bakteri pada singkong di jawa sudah diketahui sejak lama. Pada tahun 1974 ternyata penyakit menimbulkan banyak kerusakan pada tanaman singkong di kebun percobaan yang ada di Lampung. Sampai saat ini data yang pasti tentang besarnya kerugian belum tersedia, meskipun pernah dilaporkan adanya kerugian besar karena penyakit ini di Lampung pada tahun 1980.
Hawar bakteri merupakan penyakit yang terpenting pada tanaman singkong di banyak negara. Penyakit ini umum terdapat di negara-negara penanam singkong di Asia, Afrika, dan Amerika latin. Besarnya kerugian tergantung dari kondisi setempat, termaksuk tingkat ketahanan tanaman. Pada tanaman yang rentan, jika keadaan membantu penyakit, kerugian dapat mencapai 90 -100%. Namun di indonesia sendiri penyakit tersebut belum banyak diteliti. Penyakit ini banyak di teliti oleh Afrika, dan Amerika Latin.

Ø  Gejala pada daun ada bercak:
kebasah-basahan, bentuknya tidak teratur, bersudut-sudut (angular), dikelilingi oleh daerah hijau tua. Gejala meluas dengan cepat dan warna bercak menjadi coklat muda, mengeriput, dan menyebabkan daun layu. Seterunya seluruh daun layu dan rontok. Bakteri menyebar dari suatu tempat ke tempat lain terutama karena terbawa dalam stek yang terinfeksi. Dengan stek ini bakteri terbawa dari musim ke musim. Bakteri jamur ini dapat terbawa oleh tanah dengan penggarapan tanah, diperkirakan infeksi lewat tanah kurang memegang peran. Selain itu alat-alat pertanian yang terkontaminasi dapat menyebarkan bakteri, misalnya pisau yang digunakan untuk memotong stek. Selain itu bakteri terpencar oleh percikan air hujan, terutama dari karet yang keluar dari batang dan daun sakit. Manusia, hewan terbak, dan serangga dapat menularkan bakteri. Agar bakteri dapat mengadakan infeksi diperlukan udara dengan kelembaban jenuh selama 12 jam. Pada musim hujan jumlah bercak pada daun sangat meningkat.
Jenis-jenis ubi kayu memiliki tingkat ketahan yang berbeda terhadap hawar bakteri. Ketahanan ini disebabkan oleh karena ada 3 kemungkinan: bakteri terhambat penetrasinya, bakteri tidak dapat meluas secara sistemik dan tanaman bereaksi terhadap bakteri dengan cara hipersensitif.
Di afrika penyebab penyakit lebih banyak terdapat di tanah berpasir yang miskin unsur hara. Pemupukan NPK yang optimal dapat mengurangi beratnya penyakit. Di Indonesia terbukti banwa pemupukan NPK dan bahan organik meningkatkan ketahan tanaman.
Penyakit dibantu oleh curah hujan, karena curah hujan akan meningkatkan kelembaban dan membantu pemencaran bakteri. Intensitas penyakit tertinggi pada akhir musim hujan, menjelang musim kemarau. Suhu optimal untuk perkembangan penyakit adalah sekitar 30 0 C.

Ø    Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan hawar bakteri adalah penanaman jenis tahan, pemakaian stek yang diambil dari tanaman yang benar - benar sehat, melakukan pergiliran tanaman, pemangkasan bagian tanaman di atas tanah dapat mengurangi pemecaran penyakit, khususnya pada tanaman yang memiliki ketahanan tinggi atau sedang , dan pertahan belum terinfeksi berat. Kemudian cara yang berikutnya adalah membuat bibit sehat dengan mengakarkan ujung-ujung batang. Ujung-ujung batang akan tetap dari bakteri meskipun tanamannya terinfeksi berat.

3. Penyakit layu bakteri
Batang ubi kayu (singkong) yang sakit layu dapat diisolasi bakteri peseudomonas solanacearum. Ubi kayu (singkong) yang terkena sakit lendir atau sakit layu ini disebabkan oleh bakteri. Berebeda dengan hawar bakteri yang sudah dijelaskan sebelumnya, pada penyakit layu ini daun - daun layu bersama-sama dan untuk sementara tetap melekat pada batang.
Nishiyama et al. (1980) meneliti penyakit pada ubi kayu di Indonesia. Di laporkan bahwa gejala penyakit layu bakteri pada ubi kayu dapat dibedakan menjadi 3 tipe: tanaman layu, daun gugur dan mati ujung. Biasanya kedua gejala yang pertama disertai dengan perubahan warna pada bagian-bagian di bawah tanah, sedangkan hal ini tidak terjadi pada tipe ke tiga. Isolasi dari tanaman sakit dengan gajala - gejala yang berbeda tipenya menghasilkan 2 koloni yang jelas berbeda putih cair dan putih berlendir.
Selanjutnya diketahui bahwa koloni yang putih cair adalah koloni Pseudomonas solanacearum , diisolasi dari tanaman dengan gejala layu dan gugur daun. sedangkan koloni yang berwarna putih berlendir adalah koloni Xantomonas campestris pv. manihotis. Penyebab hawar ubi kayu, di isolasi dari tanaman yang bergejala mati ujung.
Pseudomonas solanacearum merupakan salah satu patogen terpenting dari golongan bakteri yang dapat menyebabkan penyakit layu bakteri yang tersebar secara luas di daerah tropik dan subtropik serta daerah-daerah bersuhu panas di dunia.
Usaha pengendalian P. solanacearum dengan menggunakan varietas tahan dan antibiotika (bakterisida) ternyata membawa masalah baru dengan munculnya ras-ras baru patogen yang lebih virulen, sehingga perlu dicari suatu penanganan lain yang lebih aman dan ramah lingkungan. Salah satu agens antagonis yang memiliki potensi besar dalam penanganan penyakit layu bakteri adalah Pseudomonas kelompok flurescens yang mampu mengkolonisasi daerah perakaran dan menghasilkan senyawa-senyawa siderofor yang berperan dalam pertumbuhan tanaman dan pengendalian hayati.
Untuk dapat menyediakan paket teknologi yang berwawasan lingkungan dalam rangka pelaksanaan program pengendalian hama dan penyakit terpadu yang mendukung sistem pertanian yang berkelanjutan, maka penelitian terhadap antagonis P. flurescens perlu dilakukan terutama dalam aspek keragaman molekuler, aspek biologi dan aspek ekologinya. Penelitian ini lebih difokuskan pada pengaruh aspek abiotik dan lingkungan terhadap P. fluroscens terutama pH, suhu, dan radiasi sinar matahari terhadap kebugaran agens antagonis yang ditunjukkan oleh perkembangan agen antagonis tersebut sehingga diketahui sifat-sifat unggul dimana daya antagonistik tinggi dan daya adaptasi terhadap berbagai kondisi lingkungan juga tinggi.
Isolasi Pseudomonas kelompok fluorescens dan uji kemampuan antagomis terhadap Pseudomonas solanacearum. Kandidat bakteri antagonis dipilih berdasarkan kriteria standar Pseudemonas flurescens yaitu koloni yang muncul paling awal dan fluorensi yang terlihat jelas. Bakteri Pf hasil isolasi kemudian diuji daya antagonismenya terhadap P. solanacearum dan dilihat persentase daya penghambatannya dengan menggunakan rumus Fokkema (1993) yang domodifikasi. Rata-rata persentase antagonis menunjukkan bahwa isolat bakteri Pf asal Sukamantri memiliki daya penghambatan terhadap P. solanacearum paling tinggi (94.24%) sedangkan isolat Pf asal Maribaya menunjukkan persentase penghambatan terhadap P.solanacearum paling rendah (24.02%). Deteksi senyawa antibiosis dilakukan dengan menggunakan fitrat dari suspensu Pseoudomonas kelompok fluorescens dan suspensi P. solanacearum yang dibiakan dalam media yang sama. Proses antagonisme terlihat dengan terjadinya penghambatan pertumbuhan P. solanacearum dalam media. Deteksi senyawa antibiosis terhadap delapan belas isolat bakteri Pf menunjukkan bahwa mekanisme antagonisme seluruh isolat bakteri terhadap P. solanacearum adalah dengan senyawa antiiosis. Derajat kemasaman (pH) untuk perlakuan diperoleh dari larutan HCI untuk asam dan NaOH untuk kondisi basa. Tingkat pH yang diuji adalah 5, 6, 7, 8, dan 9. Parameter yang diamati sebagai respon dari perlakuan adalah doubling time dan populasi maksimum bakteri Pf. Hasil pengujian menunjukkan pada pH 6 dan pH7 terjadi tingkat populasi maksimum dan doubling time terendah. Koloni bakteri yang telah disuspensikan dengan buffer fosfat dalam erlemeyer diinkubasikan dalam water bath dengan suhu perlakuan 23, 25, 27, 30, 33, dan 36 C.Parameter yang diamati adalah doubling time dan populasi maksimum. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pertumbuhan optimum sebagian besar bakteri pada suhu 25 C. Populasi maksimum tertinggi dan doubling time tercepat terdapat pada isolat bakteri Pf G1-21 pada suhu 25
C. Keragaman molekuler diantara isolat Pseudomonas kelompok fluorescens telah ditunjukkan melalui RAPD menggunakan primer 1 dan 5. Berdasarkan pola RAPD ada tiga kelompok isolat yang menunjukkan perbedaan strain, yaitu kelompok 1 (Pf GI-21, Pf GI-26, Pf Gi-44, Pf GI-50, Pf GI-51 dan Pf GI-17) yang memiliki 6 fragmen DNA, kelompok 2 (Pf GI-31 dan Pf GI-37) membentuk 4 fragmen DNA dan kelompok 3 (Pf GI-11) memiliki 5 fragmen DNA.
Berdasarkan pengujian lapang menurut Nakagawa (1978) kultivar kuning paling rentan terhadap layu bakteri, diikuti dengan SPP Pandesi dan genjah. Galur dan klon terbukti tahan (tahum, ketan merah, SPP, singkong putih, W 528, ketan putih, genjah hitam, baserat no 802 dan no 547)

4. Bercak Coklat
Untuk pertama kalinya penyakit beercak coklat pada singkong ditemukan oleh Zimmermann di Jawa pada tahun 1902. Penyakit ini tersebar di seluruh Indonesia. Ternyata bahwa penyakit tersebut ada disemua daerah penanaman singkong di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Penyakit ini merupakan penyakit daun yang paling penting pada tanaman ini.

Ø  Gejala yang timbul adalah :
Bercak tampak jelas pada kedua sisi daun. pada sisi atas bercak tampak coklat merata dengan tepi gelap yang jelas. Pada sisi bawah daun tepi bercak kurang jelas dan di tengah bercak coklat terdapat warna keabu-abuan karena adanya konidiofor dan konidium jamur. Bercak berbentuk bulat dengan garis tengah 3 - 12 mm. Jika berkembang bentuk bercak dapat kurang teratur dan agak miring - sudut karena dibatasi oleh tepi daun atau tulang - tulang daun. Jika penyakit berkembang dengan terus menerus daun yang sakit menguning dan mengering dan dapat gugur. Pada cuaca hujan dan panas jenis rentan dapat menjadi gundul.
Penyebab penyakit bercak coklat adalah cercosporidium henningsii. hifa jamur ini berkembang dalam ruang sela-sela sel, membentuk stroma dengan garis tengah 20 - 45μm. Stroma membentuk konidiofor dalam berkas - berkas yang rapat. Konidiofor coklat kehijauan pucat, warna dan lebar merata, tidak bercabang, dengan 0 - 2 bengkokan, bulat pada ujungnya dan memiliki bekas spora yang kecil atau sedang. Konidium dibentuk pada kedua sisi daun pada ujung konidiofor, berbentuk tabung, lurus atau agak bengkok, kedua ujungnya membulat tumpul, pangkalnya berbentuk tumpul. Jamur membentuk peritesium hitam, bergaris tengah 100μm, kadang - kadang tampak tersebar pada bercak di permukaan atas daun. Askus seperti gada memanjang, berisi 8 spora.
Daur penyakit pada tanaman ini berasal dari angin atau hujan yang membawa spora dari bercak tua dan daun tua yang sudah rontok ke permukaan daun sehat. Jika udara cukup lembab, konidium berkecambah, membentuk pembuluh kecambah. Penetrasi terjadi melalui mulut kulit dan jamur meluas dalam jaringan lewat ruang sela-sela sel. Dalam cuaca panas dan lembab membutuhkan waktu 12 jam. Selama musim kemarau jamur mempertahankan diri pada bercak-bercak tua.

Ø  Faktor-faktor yang mempengaruhi
penyakit sangat bergantung pada ketahan ubi kayu yang memiliki ketahan berbeda pada bercak coklat. Pada umumnya daun tua lebih rentan dari daun muda yang lebih tinggi letaknya.Tetapi pada jenis yang rentan, tangkai daun, bahkan buah yang muda sering ada serangan yang berat.Penyakit ini sangat dibantu oleh curah hujan dan suhu yang tinggi
Ø  Penanganan dari penyakit
Penanganan penyakit ini adalah dengan menanam jenis yang tahan, menanam tidak terlalu rapat untuk mengurangi kelembaban pertanaman, penanganan dapat dilakuakan dengan penyemprotan fungisida tembaga.Tetapi biaya pengendalian ini mungkin tidak tearturup oleh kenaikan biaya produksi yang di peroleh.

5. Bercak Daun Baur
Bercak daun baur berasal dari daerah Brazilia, Kolombia dan Amerika Selatan. bercak daun baur ini belum menyebar secara luas di indonesia, tetapi hanya ada di Malang.
Adapun gejala bercak daun baur pada ubi kayu adalah: bercak daun besar, berwarna coklat, tanpa batas yang jelas. Tiap bercak meliputi seperlima dari luas helaian daun atau lebih. Permukaan atas bercak berwarna coklat merata, tetapi dipermukaan bawah pusat bercak yang berwarna coklat ada keabu-abuan, karena adanya konidiofor dan konidium dari Cercospora viscosae.
Jamur ini tidak membentuk stroma, tetapi membentuk spora secara merata. Konidiofor coklat kemerahan.Membentuk berkas yang mirip koremium dan konidiumnya seperti gada terbalik silindris. Konidiumnya dipencarkan oleh angin dan serangga, meskipun angin memegang peranan yang lebih besar dalam pemencarannya. Jamur mengadakan penetrasi langsung dengan menembus permukaan lateral sel-sel epidermal, atau melalui mulut kulit. Infeksi dapat melalui dua sisi daun, tetapi yang paling banyak melalui epidermis atas (Kranz et al.1997).
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit bercak daun baur adalah curah hujan, suhu dan kelembaban.Penyakit timbul pada musim hujan, tetapi gejalanya akan muncul pada musim panas. Suhu dan kelembaban yang rendah akan membuat penyebaran penyakit akan semakin tinggi, begitu juga sebaliknya. Ketahanan terhadap bercak daun memiliki korelasi dengan tebalnya jaringan palisade dan ukuran mulut kulit daun.Penyakit ini juga timbul akibat kekurangan magnesium. Pada umumnya penakit ini tidak menimbulkan kerugian, hanya terdapat pada daun tua, meskipun kadang-kadang dapat menyebabkan daun gugur.
Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan penanaman varietas tahan (seperti varietas Malang 2), pergiliran tanaman, pemakaian stek sehat (dilakukan strilisasi stek supaya bebas dari patogen), memotong bagian daun yang terserang, dan memekai Fungisida (penyemprotan Perenox 5% 2 minggu sekali).

6. Bercak Daun Phyllosticta
Penyakit ini sudah dikenal di Malaysia, Filipina, India, Afrika, Amerika Selatan DAN indonesia. Di indonesia penyakit ini berada di Malang yang menyerang tunas dan menyebabkan mati ujung.
Gejala yang timbul kan oleh jamur ini berupa bercak besar pada daun, berwarna coklat, biasanya dengan tepi yang kurang jelas. Bercak umumnya terdapat pada ujung daun, tepi helaian daun, sepanjang tulang tengah daun dan tulanfg daun yang besar. Permukaan atas bercak pertama terdiri dari cincin-cincin konsentris yang terbentuk oleh pikndium berwarna coklat. Bercak yang tua tidak memiliki cincin, karena piknidium yang masak tercuci oleh air hujan. Jika udara sangat lembab bercak dapat tertutp oleh hifa coklat kelabu. Pada permukaan bawah daun, tulang-tulang daun yang kcil sekitar bercak menjadi rusak dan membentuk garis-garis hitam yang memancar bercak. Bercak - bercak berkembang menjadi hawar daun, akhirnya seluruh daun dan tangkai menjadi coklat tua, layu dan rontok. Pada infeksi yang berat, jamur menyerang tunas yang masih muda dan menyebabkan mati ujung. Batang yang sakit berwarna coklat dan tertutup oleh piknidium.
Jamur ini banyak membentuk piknidium yang berwarna coklat tua, bulat dan membentuk kelompok kecil pada daun atau batang. Piknidium dengan garis tengah 100-170 pM, ostiol berukuran 15-20 pM, dindingnya terdiri dari sel-sel bersegi banyak. Konidiofor pendek, hialin, membentuk suatu konidium kecil dan bersel satu.
Pemencaran penyakit ini melalui percikan air hujan, angin dan alat pertanian. Beratnya penyakit berkolerasi dengan kondisi lingkungan yang mempengaruhi perkecambahan spora. Spora berkecambah paling baik pada suhu 20-25 ˚ C. bercak daun Phyllosticta banyak terdapat di tempat-tempat yang tinggi, atau dataran rendah selama musim hujan.

Ø  Pengendalian penyakit

Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman (mengganti dengan tanaman tebu), menanam varietas tahan, pemakaian stek yang sehat, memotong bagian tanaman yang sakit, dan memakai fugisida pada tanaman yang telah terinfeksi berat. 

UNTUK MAKALAH SELENGKAPNYA DENGAN COVER,KATA PENGANTAR, DAFTAR PUSTAKA DARI MAKALAH INI SILAHKAN DOWNLOAD DISINI



Makalah Penyakit yang disebabkan oleh jamur pada tanaman singkong (Single Link)

0 komentar:

Poskan Komentar

Tingalkan komentar anda....!!!!
Berkomentar lah yang sopan......!!!
Terimaksih Bagi yang follow blog, like fans page, follow gogle +, follow Twitter di blog ini, saya ucapkan Banyak Terima Kasih.....:)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More