makalah jamur yang menyerang tanaman kacang hijau

MAKALAH JAMUR YANG TERDAPAT PADA KACANG HIJAU

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kacang hijau merupakan salah satu bahan makanan yang banyak mengandung protein,. Kecambah dari kacang hijau menjadi sayuran yang umum dimakan di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Di Indonesia dikenal sebagai tauge. Tepung biji kacang hijau, disebut di pasaran sebagai tepung hunkue, digunakan dalam pembuatan kue- kue dan cenderung membentuk gel. Tepung ini juga dapat diolah menjadi mie yang dikenal sebagai soun.
Kacang hijau dibawa masuk ke wilayah Indonesia terjadi pada awal abad ke-17 oleh pedagang China dan Portugis. Pusat penyebaran kacang hijau pada mulanya terpusat di Pulau Jawa dan Bali, tetapi pada tahun 1920-an, mulai berkembang di Sulawesi, Sumatera, Kalimantan dan Indonesia bagian Timur.
Serangan penyakit pada kacang hijau sering menimbulkan kerugian bagi para petani, diantara penyakit – penyakit kacang hijau yang sering menyerang adalah penyakit busuk batang Sclerotium, penyakit kudis, penyakit embun tepung, dan penyakit mosaik kuning. Kebanyakan penyakit yang menyerang kacang hijau di sebababkan oleh jamur. Untuk melindungi tanaman agar tidak terserang penyakit tersebut, petani harus mengenal gejala serangan, jenis patogen, siklus hidup, dan cara penyebaran serta cara pengendaliannya.

1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis penyakit jamur yang menyerang tanaman kacang hijau. Selain itu, untuk mengetahui gejala, daur hidup, pengendalian penyakit tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN

Macam Macam Jamur Yang Menyerang Tanaman Kacang Hijau
Penyakit mempunyai ciri khusus yang berbeda dari yang lain, misalnya patogen penyebab, struktur morfologi patogen, siklus penyakit, penyebaran patogen, gejala yang ditimbulkan, serta cara pengendaliannya, diantaranya sebagai berikut :

1 Nama penyakit: Penyakit Busuk Batang Sclerotium


Patogen: Sclerotium rolfsii
Klasifikasi:
 Kingdom: Fungi
Phylum: Basidiomycota
Subphylum: Agaricomycotina
Class: Agaricomycetes
Order: Atheliales
Family: Atheliaceae
Genus: Athelia
Spesies: Athelia rolfsii Synonime with Sclerotium rolfsii
Gejala: Pangkal batang kacang hijau sering terserang oleh jamur Sclerotium rolfsii. Tanaman yang terserang Sclerotium rolfsii akan menimbulkan gejala layu mendadak. Pada pangkal batang dan di permukaan tanah sekelilingnya terdapat benang-benang miselium seperti bulu, membentuk banyak sklerotium yang semula berwarna putih, kemudian menjadi berwarna coklat, sebesar biji sawi. Selain batang, jamur dapat menginfeksi daun-daun bawah, yang dimulai dari pangkal anak daun. Pangkal anak daun berwarna hijau kelabu kebasah-basahan.

Daur Hidup: Cendawan ini merupakan cendawan kelompok Deuteromycetes, hanya mempunyai  fase anamorf.  Struktur anamorfnya  berupa sklerotium  yang berbentuk  bulat, licin,  dan  berwarna  agak  kuning.  Siklus  patogen  ini  mempunyai  dua  bentuk.  Pada  fase anamorf     berbentuk     Sclerotium     sedangkan     fase     teliomorfnya     yaitu     Aethalia. Keterangan eko-biologinya, patogen ini bersifat polifag, dapat hidup sebagai saprofitis di dalam tanah yang agak basah, sifat serangannya epidemik berbunga tunggal “single interest disease”.

Pengendalian: Pengendalian penyakit ini terdapat beberapa cara yang telah diaplikasikan, diantaranya,  yaitu:  menanam  varietas  unggul  yang  resisten,  sistem  rotasi  tanam  antara palawija dengan tanaman lainnya seperti padi akan menghambat dalam kelangsungan hidup sclerotia dapat dikurangi dengan tanah yang diairi. Siklus penyakit juga dapat rusak dengan tanaman yang toleran atau resisten. Melakukan desinfeksi atau mensterilkan tanah dengan uap panas atau dengan menggunakan zat kimia khusus, dan juga dengan meniadakan kontaminan pada biji-biji dengan perlakuan biji (seed treatment) dengan beberapa zat kimia. Perlakuan kimia pada saat tanam dengan menambah fungisida saat penanaman benih. Pengendalian secara biologi juga dapat diterapkan dalam mengendalikan Sclerotium rolfsii, salah   satu   pengendalian   secara   biologi   yang   telah   dilakukan   yakni   menggunakan Trichoderma glaucum sebagai cendawan antagonis yang efektif untuk mengendalikan Sclerotium     rolfsii     penyebab     penyakit     busuk     batang     pada     kacang     hijau. Pemindahan puing tanaman yang terinfeksi adalah penting karena hal ini dapat berfungsi sebagai inokulum bagi tanaman berikutnya. Penyebaran penyakit propagules juga harus dibatasi,    dalam    bentuk    hifa    atau    sclerotia    dalam    tanah    atau    pada    sampah. Penggalian tanah dan pengolahan yang lebih dalam akan menguburkan bahan tanaman yang terinfeksi dan sclerotia sehingga tanaman berikutnya tidak mudah bersentuhan dengan penyebab/sumber penyakit yang tertanam di dalam tanah, namun peralatan budidaya dapat membantu   dalam   penyebaran   patogen   ke   daerah   yang   sebelumnya   tidak   terinfeksi. Pengapuran untuk meningkatkan pH menjadi sekitar 7,0 juga dapat membantu dalam pengendalian Sclerotium rolfsii.
2 Nama penyakit: Penyakit Kudis (Scab)
Patogen: Elsinoe glycines
Klasifikasi:
Kingdom: Fungi
Phylum: Ascomycota
Class: Dothideomycetes
Subclass: Dothideomycetidae
Order: Myriangiales
Family: Elsinoaceae
Genus: Elsinoe
Species: Elsinoe glycines
           
Gejala: Gejala penyakit ini tampak pada daun, tangkai daun, batang dan polong. Pada daun mula-mula timbul bercak kecil, bulat dengan garis tengah 1-2 mm, coklat atau coklat kemerahan.  Seringkali  jaringan  daun  di  sekitar  bercak  menguning.  Bercak  sedikit  demi sedikit membesar sehingga garis tengahnya mencapai 3-5 mm, kadang-kadang tampak agak bersudut. Bercak yang tua mempunyai pusat berwana kelabu atau putih kelabu dan dapat berlubang. Bercak daun terjadi pada atau sepanjang tulang daun atau tulang tengah. Pada tulang daun dan tulang tengah daun, bercak tampak seperti kanker atau kudis berwarna suram dan tampak lebih jelas pasa bagian bawah daun daripada sisi atas daun. Daun mengeriting jika terinfeksi pada waktu masih muda. Pada batang bercak bulat atau lonjong dengan garis tengah 3-5 mm, pusatnya berwana kelabu atau putih kelabu. Seringkali bercak bersatu sehingga panjangnya bisa mencapai 1cm atau lebih, sejajar dengan sumbu batang. Bercak sering agak terangkat, suram, berwana kelabu atau putih kelabu, dan menunjukkan gejala kudis yang khas. Gejala pada polong merupakan gejala yang paling jelas. Bercak-bercak pada polong hijau yang masih muda agak melekuk, jorong, agak bulat, atau kadang-kadang tidak teratur, ukurannya bervariasi dari satu titik sampai bergaris tengah 5-8 mm. bercak berwarna coklat tua atau coklat kemerahan dan pusatnya sering berwana kelabu jika polong menjadi masak, bercak-bercak sedikit demi sedikit terangkat dan warnanya menjadi lebih muda, yaitu kelabu atau putih kelabu.

Daur Hidup: Pemencaran patogen ini terjadi melalui air, meskipun spora mungkin dapat juga  dipencarkan  oleh  angin.  Cendawan  ini  dapat  mempertahankan  diri  pada  sisa-sisa tanaman  sakit.  Diketahui  bahwa  penyakit  kudis  karena  E.  phaseoli  pada  kratok  dapat bertahan  pada  biji.  Elsinoe  glycines,  selain  pada  kacang  hijau,  dapat  menular  ke  kara (Dolichos lablab) dan kacang azuki (Phaseolus angularis), meskipun tanaman-tanaman ini kurang rentan.

Pengendalian:  Pengendalian  penyakit  ini  terdapat  beberapa  cara,  yaitu:  menggunakan varietas  yang tahan bila memungkinkan, merotasikan tanah bekas tanaman kacang hijau dengan tanaman yang berbeda familinya, dan memperbaiki sistem drainase lahan. Selain secara teknis, pengendalian secara kimia dilakukan dengan penyemprotan fungisida.

3 Nama penyakit: Penyakit Embun Tepung (Downy Mildew)

Patogen: Oidium sp.
Klasifikasi:
 Kingdom: Fungi
Class: Leotiomycetes
Order: Erysiphales
Family: Erysiphaceae
Genus: Oidium
Spesies: Oidium sp



Gejala: Mula-mula pada permukaan atas daun terdapat bercak putih, yang lalu meluas sehingga dapat menutupi seluruh permukaan daun. Lebih dulu gejala tampak pada daun-daun bawah. Lapisan putih dapat juga terjadi pada batang dan polong. Lapisan putih itu adalah miselium, konidofor, dan konidium jamur. Pada serangan yang parah daun layu dan rontok. Bila serangan yang parah ini timbul sebelum pembungaan, tanaman tidak dapat membentuk polong, atau membentuk polong kecil yang menghasilkan sedikit biji yang tidak normal.

Daur Hidup: Jamur tepung dipencarkan oleh konidiumnya yang terbawa oleh angin. Oidium mempunyai banyak  tumbuhan inang  yang termasuk ke dalam kacang-kacangan. Kondisi yang mendukung Perkembangan penyakit embun tepung ini dibantu oleh udara yang sejuk (22-260C) dengan kelembaban nisbi 80-88%. Perkecambahan konidium dibantu oleh udara sejuk, lembab dan keadaan yang terlindung (teduh). Tetapi pembentukan spora dipicu oleh sinar matahari dan suhu yang agak tinggi. Keadaan kering dan banyak angin membantu pemencaran   konidium.   Sebaliknya   hujan   yang   terus   menerus   akan   menghambat perkembangan penyakit. Oleh karena itu, penyakit tepung lebih banyak terdapat pada pertanaman musim kemarau.

Pengendalian:  Pengendalian  penyakit  ini  dapat dilakukan  dengan menggunakan  varietas yang tahan  terhadap penyakit  embun tepung. Pengendalian  secara kimia dapat diakukan dengan penyerbukan belerang dan penyemprotan fungisida (bahan kimia dinokap dan benomyle).

UNTUK MAKALAH SELENGKAPNYA DENGAN COVER,KATA PENGANTAR, DAFTAR PUSTAKA DARI MAKALAH INI SILAHKAN DOWNLOAD DISINI


0 komentar:

Poskan Komentar

Tingalkan komentar anda....!!!!
Berkomentar lah yang sopan......!!!
Terimaksih Bagi yang follow blog, like fans page, follow gogle +, follow Twitter di blog ini, saya ucapkan Banyak Terima Kasih.....:)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More